Showing posts with label Pengemis Peniru. Show all posts
Showing posts with label Pengemis Peniru. Show all posts

Friday, August 26, 2011

Ru-yah Dan Hilal~

Ada beberapa istilah yang sering muncul ketika menjelang bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah, yaitu ru-yah dan hisab. Banyak media yang memberitakan ru-yah dan hisab pada bulan-bulan tersebut, tetapi tidak banyak media yang menjelaskan banyak hal tentang ru-yah dan hisab, padahal masih banyak umat Islam yang belum mengetahui seluk beluk ru-yah dan hisab.


Tulisan ini membahas beberapa hal yang berkaitan dengan ru-yah dan hisab. Dengan dibuatnya tulisan ini diharapkan semakin banyak umat Islam yang lebih memahami tentang ru-yah dan hisab. Amiin. Tulisan ini masih jauh dari sempurna, karena itu kritik, komentar, dan saran sangat penulis harapkan. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.



K. Pengertian


Hilal (هلال) = Awal Bulan.

Bulan yang mengitari Bumi memiliki fase tersendiri dalam setiap putarannya selama 29-30 hari/bulan. Setiap fase memiliki tanda/bentuk tersendiri, seperti bulan sabit, setengah purnama, purnama, bulan mati, dan sebagainya. Hilal termasuk suatu fase awal bulan yang dapat dilihat oleh seseorang, secara singkatnya hilal adalah bulan sabit.


Hilal ini ada pada setiap bulan, jadi istilah hilal tidak hanya dipakai ketika bulan Ramadhan, Syawal, Dzulhijjah saja (bulan tersebut merupakan bulan-bulan hijriyah ketika istilah hilal menjadi sangat terkenal), tetapi untuk semua bulan hijriyah.


Ru-yah (رؤْية) = Penglihatan.

Dalam konteks bulan hijriyah yang dimaksud dengan ru-yah adalah ru’yah hilal yaitu melihat hilal dengan cara melihatnya dengan mata langsung atau melalui alat bantu (teropong dan alat astronomi lainnya).


(Catatan : Harap bedakan antara ru-yah (رؤْية) dengan Ruqyah (رقيه) dan ru-ya (رؤْيا) . Ruqyah secara bahasa adalah jampi-jampi/ucapan/mantra. Ruqyah terbagi menjadi dua, Ruqyah Syar’iyah (Ruqyah yang sesuai syari’at Islam) dan Ruqyah yang bukan Syar’i (Ruqyah yang tidak sesuai dengan syari’at Islam). Sedangkan ru-ya adalah mimpi (lebih khusus mimpi yang baik). Masalah Ruqyah dan ru-ya lebih lanjut perlu dijelaskan secara terpisah.


Hisab (حساب) = Perhitungan.

Dalam konteks bulan hijriyah yang dimaksud dengan hisab adalah suatu metode perhitungan untuk menentukan tanggalan (termasuk awal dan akhir bulan) hijriyah.



L. Cara Menentukan Hilal


Cara menentukan Hilal :

Ru-yah

Ru-yah biasa dilakukan pada hari ke 29 (yaitu pada sore harinya menjelang/setelah maghrib) suatu bulan Hijriyah.


Ikmal (إكمال = penyempurnaan)

Jika Hilal tidak terlihat pada proses ru-yah, maka bulan hijriyah tersebut disempurnakan/digenapkan menjadi 30 hari.


Hisab

Ahli hisab membuat suatu metode perhitungan sehingga terbuatlah suatu jadwal/kalender Hijriyah dalam setiap bulan/tahunnya.



Ru-yah dan Ikmal merupakan istilah yang berhubungan, karena jika ru-yah tidak dapat dilakukan maka ikmal 30 hari akan dilakukan. Dengan alasan itu maka wajar saja jika seolah-olah hanya ada dua cara menentukan Hilal, yaitu ru-yah dan hisab.


Mayoritas umat Islam di dunia menggunakan cara ru-yah untuk menentukan Hilal Ramadhan&Syawal, termasuk pemerintah Indonesia. Walau begitu tetap ada sebagian Muslim yang memilih menggunakan cara hisab (baik hisab murni maupun tidak), di Indonesia Muhammadiyah merupakan salah satu contoh yang paling vokal.


L.1. Ru-yah

Penentuan Hilal melalui ru-yah juga memiliki beberapa perbedaan pendapat :

Satu ru-yah untuk semua negeri.

Maksudnya : Jika suatu negeri telah menyatakan telah melihat Hilal melalui ru-yah dengan terpercaya dan terbukti, maka negeri lain wajib mengikutinya walaupun negeri tersebut tidak melihat Hilal di negerinya sendiri.


Contoh : Jika Arab Saudi telah menyatakan telah melihat hilal, negara-negara lain di seluruh dunia yang belum melihat hilal harus mengikuti hasil ru-yah Arab Saudi.


Pendapat satu ru-yah untuk semua negeri ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Sayyid Sabiq rahimahullah dalam Fiqhu as-Sunnah (Juz 1) :

ذهب الجمهور: إلى أنه لا عبرة باختلاف المطالع.

فمتى رأى الهلال أهل بلد، وجب الصوم على جميع البلاد لقول الرسول صلى الله عليه وسلم ” صوموا لرؤيته، وافطروا لرؤيته “.

وهو خطاب عام لجميع الامة فمن رآه منهم في أي مكان كان ذلك رؤية لهم جميعا.



Pendapat Jumhur : Tidak ada perbedaan mathla (tempat muncul hilal), maka penduduk negeri apa saja yang telah melihat hilal, maka seluruh negeri wajib shaum sebagaimana hadits Rasulullah, “Shaumlah kalian karena melihat hilal (awal Ramadhan), dan berbukalah kalian karena melihat hilal (awal Syawwal)”. Ucapan tersebut adalah umum untuk semua umat, maka barangsiapa di antara mereka yang telah melihat hilal di tempat mana saja, maka itu adalah ru-yah bagi mereka semua (Fiqhu as-Sunnah Juz 1).



Satu ru-yah untuk satu negeri dan negeri yang berdekatan.

Maksudnya : Jika suatu negeri telah menyatakan telah melihat Hilal melalui ru-yah dengan terpercaya dan terbukti, maka negeri yang berdekatan wajib mengikutinya walaupun negeri tersebut tidak melihat Hilal di negerinya sendiri.


Contoh : Jika Indonesia telah menyatakan telah melihat hilal, negara-negara tetangga Indonesia (Malaysia, Brunei, Filipina, Thailand, dsj) yang belum melihat hilal harus mengikuti hasil ru-yah Indonesia.


Ini adalah pendapat sebagian ulama Syafi’iyyah.


Setiap negeri memiliki ru-yah masing-masing.

Maksudnya : Jika suatu negeri telah menyatakan telah melihat Hilal melalui ru-yah dengan terpercaya dan terbukti, maka negeri lain tidak wajib mengikutinya jika mereka tidak melihat Hilal di negerinya sendiri.


Contoh : Jika Arab Saudi telah menyatakan telah melihat hilal, negara-negara lain di seluruh dunia yang belum melihat hilal tidak harus mengikuti hasil ru-yah Arab Saudi, melainkan mengandalkan hasil ru-yah di negerinya sendiri.


Ini adalah pendapat Ikrimah, Qasim bin Muhammad, Salim, Ishaq rahimahumullah, dan pendapat yang dipilih oleh sebagian ulama Syafi’iyyah.


Ketiga pendapat dalam masalah ru-yah Hilal tersebut memiliki dalil/argumen yang sama (dengan pemahaman yang berbeda), yaitu suatu hadits riwayat Bukhari dan Muslim :


صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ


Rasulullah bersabda, “Shaumlah kalian karena melihat hilal (awal Ramadhan), dan berbukalah kalian karena melihat hilal (awal Syawwal). Jika (hilal) tertutup atas kalian, maka sempurnakanlah jumlah Sya’ban 30 hari.” >


Sedangkan pendapat setiap negeri memiliki ru-yah masing-masing memiliki tambahan dalil dari hadits Kuraib / Ibnu Abbas :

: قدمت الشام، واستهل علي هلال رمضان وأنا بالشام، فرأيت الهلال ليلة الجمعة.

ثم قدمت المدينة في آخر الشهر، فسألني

ابن عباس - ثم ذكر الهلال - فقال: متى رأيتهم الهلال؟ فقلت: رأيناه ليلة الجمعة فقال: أنت رأيته؟ فقلت: نعم، ورآه الناس، وصاموا، وصام معاوية، فقال: لكنا رأيناه ليلة السبت، فلا نزال نصوم حتى نكمل ثلاثين، أو نراه، فقلت: ألا تكتفي برؤية معاوية وصيامه؟ فقال: لا…هكذا أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم.


Kuraib berkata : Aku tiba di Syam, lalu diumumkan tentang hilal Ramadhan ketika aku masih di Syam. Aku melihat hilal pada malam Jum’at. Lalu aku tiba di Madinah pada akhir bulan (Ramadhan), lalu Ibnu Abbas menanyakanku –lalu ia menyebut hilal–. Ibnu Abbas bertanya, “Kapan mereka melihat hilal?” Aku menjawab, “Kami melihat hilal pada malam Jum’at.” Ibnu Abbas bertanya, “Kamu melihat hilal?” Aku menjawab, “Ya, dan orang-orang melihat hilal, lalu mereka shaum, dan Mu’awiyah juga shaum.” Ibnu Abbas berkata, “Tapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka kami tidak berhenti shaum hingga kami menyempurnakan 30 hari atau kami melihat hilal.” Aku bertanya, “Apakah tidak cukup bagimu ru-yah Mu’awiyah dan shaumnya?” Ibnu Abbas menjawab, “Tidak, begitulah Rasulullah telah memerintahkan (kami).” >




L.2. Hisab


Walaupun ru-yah merupakan cara yang paling banyak dipakai dalam menentukan awal/akhir bulan Hijriyah, sebagian Muslim memakai ilmu hisab dengan memperhitungkan gerak Bulan mengitari Bumi, bahkan ilmu hisab saat ini sudah didukung dengan alat-alat astronomi dengan teknologi yang canggih.


Dalil diperbolehkannya hisab dipakai dalam menentukan awal/akhir bulan adalah :

Menentukan awal bulan Hijiriyah (secara umum : semua bulan hijiryah) pada dasarnya termasuk dalam permasalahan dunia.

Kaidah dalam permasalahan dunia adalah segala sesuatu adalah boleh kecuali jika ada dalil yang melarangnya. Apalagi dengan ilmu hisab ini dapat membantu umat Muslim di seluruh dunia, baik dalam permasalahan dunia bahkan juga dalam beberapa permasalahan agama (seperti waktu shalat dan hisab awal ramadhan/syawal/dzulhijjah).


Terdapat perintah dalam Al-Qur’an yang menyuruh umat Muslim mempelajari ilmu hisab, antara lain adalah :

(((يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ اْلأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ )))


((( Mereka bertanya tentang hilal-hilal, katakanlah itu adalah waktu-waktu bagi manusia dan bagi (ibadah) haji [Al-Baqarah (2): 189] )))


((( Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. [Yunus (10) : 5] )))


((( Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. [ Al-Israa' (17) :12] )))


((( Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. [Al-An'am (6) : 96] )))


Beberapa ulama yang menyatakan bolehnya memakai hisab antara lain : Abul Abbas Ahmad bin Amr bin Suraij asy-Syafi’i, Ibnu Hazm, Ibnu Daqiq al-’Iid, dan Muhammad Rasyid Ridha Rahimahumullah (lihat majmu’ah ar-rasaail ats-tsalasah). Ulama-ulama Indonesia juga cukup banyak yang menyatakan bolehnya menggunakan hisab, satu dari mereka adalah A. Hassan rahimahullah (lihat terjemahan dan keterangan A. Hassan dalam Kitab Bulughul Maram).


M. Pendapat yang Ideal Tentang Ru-yah


Dalam masalah ru-yah, kaum Muslimin saling berbeda pendapat tentang pendapat manakah yang paling kuat dalam penentuan ru-yah, apakah pendapat pertama (satu ru-yah untuk semua negeri), pendapat kedua (satu ru-yah untuk satu negeri dan negeri yang berdekatan), atau pendapat ketiga (setiap negeri memiliki ru-yah masing-masing)? Menurut penulis, pendapat yang paling kuat / mendekati kebenaran adalah pendapat yang pertama, Insya Allah, pendapat yang paling ideal, dan juga merupakan pendapat mayoritas ulama. Hal ini memiliki beberapa alasan antara lain :


Kata “kalian” pada hadits ru-yah berlaku umum untuk semua orang Islam. Jika ada yang melihat Hilal, jujur, terpercaya dan terbukti tanpa memandang perbedaan mathla (tempat munculnya hilal), maka persaksian itu harus diterima.


Umat Islam itu satu, karena itu perlu penyeragaman dalam penentuan Hilal.


Sebagian kalangan meyakini bahwa pendapat ketiga (setiap negeri memiliki ru-yah masing-masing) adalah pendapat yang lebih kuat dengan dalil hadits Kuraib yang sudah disebut sebelumnya dan menyatakan bahwa jika pendapat pertama (satu ru-yah untuk semua negeri) lebih kuat, maka hadits umum tentang ru-yah itu bertentangan/bentrok dengan hadits Kuraib.


Jika direnungkan lagi, sebenarnya hadits Kuraib tidak bertentangan dengan hadits umum tentang ru-yah. Beberapa alasannya adalah :

Pada saat itu negeri-negeri berjauhan dan belum memiliki suatu sistem komunikasi yang canggih dan cepat.


[Ibnu Abbas bertanya, “Kapan mereka melihat hilal?”] Hal ini menandakan bahwa Ibnu Abbas tidak tahu kapan Mu’awiyah yang merupakan seorang khalifah memulai shaum Ramadhan di Syam, dan Ibnu Abbas baru mengetahui hal itu saat Kuraib mengabarinya. Dengan alasan ini pula menandakan bahwa sekalipun Mu’awiyah mengumumkan berita ru-yah di negerinya, tetapi ia tidak menyebarkannya ke negeri yang lain karena pada saat itu belum adanya suatu sistem komunikasi yang cepat (pada saat itu informasi disampaikan melalui utusan yang waktu tempuhnya dapat berhari-hari sehingga tidak efektif untuk urusan seperti hilal ini).


[ Aku tiba di Syam, lalu diumumkan tentang hilal Ramadhan ketika aku masih di Syam. Aku melihat hilal pada malam Jum'at. Lalu aku tiba di Madinah pada akhir bulan (Ramadhan)] Kuraib menyampaikan berita hilal Ramadhan di Syam pada Ibnu Abbas di Madinah pada akhir bulan Ramadhan. Kesimpulannya berita hilal itu sangat telat datang (tapi masih dapat dimaklumi jika melihat kondisi pada saat itu) pada saat shaum sudah berjalan beberapa pekan (hampir sebulan), oleh karena itu Ibnu Abbas menyatakan bahwa mereka (penduduk Madinah) akan meneruskan shaum mereka hingga mereka melihat hilal Syawal atau ikmal. Seandainya berita hilal Ramadhan di Syam bisa tiba tepat waktu di Madinah (dan kondisi seperti ini pada saat itu sangat sulit tercapai), maka belum tentu Ibnu Abbas akan berkata seperti itu.


[Tidak, begitulah Rasulullah telah memerintahkan (kami)] Perkataan Ibnu Abbas ini bisa ditafsirkan dalam beberapa penafsiran, apakah maksudnya adalah (a) Rasulullah memerintahkan ru’yah hilal Ramadhan berlaku di masing-masing negeri atau (b) Rasulullah memerintahkan jika berita hilal Ramadhan dari negeri lain sampai dengan telat pada saat negeri itu sedang shaum beberapa pekan, maka penduduk negeri itu sebaiknya melanjutkan shaum mereka.


Pendapat 4b lebih baik, Insya Allah, daripada 4a sehingga hadits Kuraib ini tidak bentrok dengan hadits hilal secara umum. Seandainya berita hilal Ramadhan di Syam bisa tiba tepat waktu di Madinah (dan kondisi seperti ini pada saat itu sangat sulit tercapai), maka belum tentu Ibnu Abbas akan berkata seperti itu dan Ibnu Abbas sangat mungkin akan mengikuti kesaksian orang-orang yang telah menyatakan melihat hilal Ramadhan di negeri lain.


Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam saja menerima persaksian orang-orang yang melihat hilal tanpa menanyakan di mana mereka melihat hilal :

راءى الناس الهلال، فأخبرت رسول الله صلى الله عليه وسلم أني رأيته، فصام، وأمر الناس بصيامه.

Dari Ibnu Umar Radiyallaahu Anhu : Orang-orang melihat hilal (Ramadhan), lalu berita ru’yah itu disampaikan kepada Rasulullah, maka beliau shaum dan memerintahkan orang-orang untuk shaum. >


N. Dilema ru-yah dan hisab


Faktanya, pada saat ini kebanyakan negeri memilih pendapat ke-3 (sebagian ada yang memilih pendapat ke-2) dalam masalah ru-yah, sehingga masih cukup sering terjadi perbedaan dalam penentuan Hilal. Ego masing-masing negara masih terlihat, padahal seharusnya yang terlihat hanyalah rasa persaudaraan sesama Muslim dan melepas perbedaan negara.


Cukup sering terjadi perbedaan awal bulan Ramadhan dan Syawal di beberapa negeri Muslim di dunia, hal ini disebabkan kebanyakan negeri memilih pendapat ke-3 dalam ru-yah. Anehnya, ketika penentuan awal bulan Dzulhijjah, banyak negara-negara yang mengikuti hasil ru-yah Arab Saudi. Ketika penentuan awal bulan Ramadhan dan Syawal, masing-masing negara kukuh berpendapat dengan hasil ru-yah di negerinya masing-masing, tetapi ketika penentuan awal bulan Dzulhijjah banyak negeri Muslim yang mengikuti hasil ru-yah Arab Saudi. Aneh, kan?


Disinilah cara hisab sebenarnya bisa berperan dengan baik dalam penentuan Hilal. Dengan ilmu hisab yang semakin baik yang dikuasai oleh ahli hisab Muslim, ditambah dengan bantuan alat astromoni dan astronom Muslim, mereka memakai hisab untuk keperluan umat Muslim di seluruh dunia.


Contoh terbaik adalah jadwal shalat 5 waktu untuk seluruh dunia, jadwal tersebut dibuat dengan hisab dan dipakai oleh mayoritas Muslim di dunia, termasuk di Indonesia. Jadwal shalat pada awalnya diketahui dengan cara melihat perubahan posisi matahari (dengan kata lain ru-yah Syamsu/Melihat matahari), tetapi dengan adanya ilmu hisab, jadwal shalat bisa dibuat untuk seluruh tempat di dunia. Kenapa hisab jadwal shalat bisa digunakan di seluruh dunia? Karena perhitungannya hasil hisab –Insya Allah– sama (atau setidaknya hanya selisih sedikit saja beberapa menit) dengan hasil melihat langsung posisi matahari untuk menentukan waktu shalat.


Jadwal shalat 5 waktu yang diterima di seluruh dunia itu dibuat dengan hisab, anehnya ketika ahli hisab (dan astronom Muslim) membuat hisab untuk kalender hijriyah, termasuk penentuan Hilal Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah, banyak negeri Muslim yang menolaknya, tetapi mereka memakai hisab (menggunakan kalender Hijriyah) untuk bulan-bulan Hijriyah selain Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Anehnya lagi mereka memakai hisab untuk shalat dalam keseharian hidup mereka, tetapi ketika mementukan Hilal mereka menolaknya.


Contoh lainnya dengan adanya hisab, bisa diketahui dengan jelas kapan waktu gerhana bulan atau gerhana matahari, di tempat mana terjadinya, kapan waktunya, dan sebagainya. Dengan adanya informasi seperti itu, kaum Muslimin jadi mengetahui tentang kapan waktu gerhana, dan juga bisa bersiap-siap untuk melakukan salah satu sunnah Rasulullah yaitu shalat gerhana.


Sebenarnya hisab dan ru-yah tidak bertentangan, malah sebaliknya hisab bisa menjadi pendukung ru-yah. Dengan hisab, bisa ditentukan apakah Hilal kemungkinan besar akan terlihat atau tidak. Jika ahli hisab mengatakan ru-yah dapat terlihat di suatu tempat, maka hanya perlu pembuktian dengan ru-yah, dan biasanya –Insya Allah– memang benar (karena perhitungan hisabnya sudah bagus dan semakin baik). Jika ahli hisab dan astronom Muslim mengatakan dengan ilmu hisab dan astronominya bahwa Hilal kemungkinan tidak akan terlihat, maka tinggal buktikan saja dengan ru-yah, simpel kan?

Dengan ilmu hisab dalam penentuan jadwal kalender Hijriyah, termasuk penentuan Hilal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, maka Insya Allah persatuan umat Islam di dunia dalam masalah tanggalan / kalender tahun hijriyah dapat tercapai lagi. Tidak akan ada lagi perbedaan waktu shaum, Idul Fitri dan Idul Adha di seluruh dunia. Alangkah indahnya jika hal tersebut bisa terwujudnya. Jika orang nashrani bisa bersatu merayakan natal setiap tanggal 25 Desember, kita sebagai Muslim lebih berhak untuk bisa bersatu dalam shaum (Ramadhan), Idul Fitri (Syawal), dan Idul Adha (Dzulhijjah).


O. Opini Penulis tentang Penentuan Hilal di Indonesia

Beberapa hal yang biasa dilakukan depag/pemerintah dalam penentuan Hilal.


Cara yang dipakai oleh pemerintah/Depag RI adalah ru-yah, tetapi menurut penulis mereka belum optimal dalam menerapkannya.

Biasanya menugaskan beberapa orang Depag untuk melakukan ru-yah hilal di beberapa tempat di wilayah Indonesia. (Apakah semua tempat di Indonesia akan terjangkau oleh orang Depag, lebih banyak mana antara orang Depag yang diperintahkan melihat Hilal dengan Muslim Indonesia yang juga berpotensi untuk dapat melihat Hilal?)

Jika mayoritas orang Depag menyatakan tidak melihat hilal pada sidang itsbat, maka pendapat itu yang biasanya dipakai.

Biasanya akan melakukan rapat dengan ormas Islam sebelum penentuan awal bulan Ramadhan/Syawal (sidang itsbat), tetapi pendapat yang dipilih biasanya pendapat yang sudah dipilih oleh pemerintah/depag sebelumnya.

Sekalipun banyak Muslim non-Depag atau ormas yang melihat ru-yah dan sudah melaporkannya kepada pemerintah, jika pemerintah/Depag RI sudah memutuskan untuk ikmal maka pasti akan digenapkan (tidak memakai hasil ru-yah orang/pihak lain).

Diberitakan bahwa Depag sudah membeli suatu alat astronomi yang canggih, tetapi penggunaannya secara optimal untuk ru-yah belum diketahui. Apakah benar-benar dipakai atau hanya sekedar pajangan saja.

Biasanya waktu awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah di Indonesia adalah waktu yang telah ditetapkan sesuai dengan kalender yang telah dibuat oleh pemerintah Indonesia. Dan biasanya pula, lama bulan Ramadhan adalah 30 hari.

Cukup sering hasil penentuan Hilal (terutama Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah) pemerintah/Depag RI berbeda dengan kebanyakan hasil penentuan negeri Muslim lainnya di dunia. Tahun 1427 H dan 1428 H adalah salah satu contohnya (awal Syawal dan Dzulhijjah yang dipakai pemerintah RI berbeda dengan yang dipakai mayoritas negeri Muslim).

Tahun ini (1428 H) Depag sudah memanggil ahli ru-yah dan ahli hisab untuk saling berdiskusi. Semoga mereka dapat berdiskusi dengan baik, saling menerima kebenaran, mau mengakui kekeliruan jika memang terjadi kekeliruan, dan bertujuan untuk mendapat hasil yang terbaik untuk umat Muslim ini (update : ternyata harapan tersebut tidak dapat terwujud pada tahun 1428 H, semoga saja harapan ini dapat terwujud pada tahun-tahun yang akan datang, Amiin).



Beberapa hal yang dilakukan oleh masyarakat/ORMAS Muslim di Indonesia (non depag/pemerintah) dalam penentuan Hilal :


ORMAS paling vokal dalam menerapkan hisab untuk penentuan Hilal adalah Muhammadiyah. Biasanya mereka percaya diri untuk mengumumkan hasil hisabnya jauh hari sebelum hari H.

Ada beberapa ORMAS yang mengikuti rapat Depag tentang penentuan awal bulan yang pada rapat tersebut mereka mengikuti pendapat pemerintah/Depag, tetapi pada kenyataannya (entah secara organisasi maupun personal) mereka menerapkan pendapat yang berbeda dengan apa yang sudah diputuskan tersebut.


Ada beberapa ORMAS pusat yang mengikuti pendapat pemerintah RI, tetapi ORMAS cabangnya tidak mau sependapat dengan ORMAS pusat disebabkan mereka sudah melihat Hilal atau negeri lain ada yang sudah melihat Hilal. Ini pernah terjadi pada sebagian cabang Nahdhatul Ulama.

Ada beberapa orang/ORMAS di Indonesia yang berpegang pada pendapat satu ru-yah untuk semua negeri dan mereka mengambil patokan Arab Saudi. Salah satu contohnya adalah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (walaupun mereka tidak terlalu vokal dalam menyuarakannya).

Ada beberapa orang/ORMAS di Indonesia yang serius dalam melihat ru-yah dan maksimal untuk dapat menemukannya. Jika mereka melihat ru-yah, mereka akan berpegang pada pendapat tersebut walaupun berbeda dengan keputusan pemerintah RI. Contoh ORMAS ini cukup banyak, salah satunya adalah Front Pembela Islam (FPI).

Ada beberapa orang/ORMAS di Indonesia yang berpegang pada pendapat masing-masing negara memiliki ru-yah masing-masing, mereka mengikuti penentuan Hilal pemerintah RI untuk bulan Ramadhan dan Syawal, tetapi untuk masalah Dzulhijjah mereka mengikuti penentuan Hilal di Arab Saudi. Contohnya adalah sebagian kelompok Salafiyun.


Alhamdulillah, Ramadhan tahun ini (1428 H) hampir semua Muslim di dunia ini memulai shaum pada hari yang sama (13 september 2007). Tapi sepertinya Idul Fitri tahun 1428 ini di Indonesia akan terjadi perbedaan lagi seperti tahun lalu (update : memang telah terjadi perbedaan lagi). Muhammadiyah sudah menentukan (dengan hisab) bahwa Idul Fitri tahun ini kemungkinan akan jatuh pada tanggal 12 Oktober 2007, hal ini berbeda dengan kalender resmi pemerintah Indonesia dan beberapa organisasi Muslim lainnya yang sependapat dengan pemerintah.


Biasanya penulis sependapat dengan Muhammadiyah, karena [biasanya] hisab Muhammadiyah akan sama hasilnya dengan penentuan Hilal di mayoritas negara Muslim lainnya di dunia (contohnya seperti penentuan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah pada tahun 1427 H, hasil hisab mereka sama dengan hasil penentuan Hilal di kebanyakan negeri Muslim lainnya pada tahun tersebut) . Penulis hanya perlu mencari informasi pada malam Idul Fitri (tahun ini pada malam 12 Oktober 2007) tentang penentuan Idul Fitri di beberapa negeri Muslim lainnya (terutama Timur Tengah) untuk pembuktian.


Penulis juga sependapat dengan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (satu ru-yah untuk semua negeri), oleh karena itu wajar jika Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dijadikan salah satu sumber penulis untuk mendapat informasi awal bulan Hijriyah (tapi saat ini informasi dapat lebih mudah didapat melalui internet ^^, jadi penulis tidak bergantung untuk mendapat informasi hilal dari beberapa ORMAS di negeri ini).



P. Penutup


Dalam bagian akhir dari tulisan ini, penulis akan memberikan suatu kesimpulan dari apa yang sudah dibahas pada tulisan ini :


Terdapat tiga cara dalam penentuan Hilal bulan Hijriyah, yaitu ru-yah, Ikmal dan hisab.

Terdapat perbedaan pendapat dalam penentuan ru-yah Hilal, yaitu (1) satu ru-yah untuk semua negeri, (2) Satu ru-yah untuk satu negeri dan negeri yang berdekatan dan (3)Masing-masing negeri memiliki ru-yah masing-masing.

Ilmu hisab ialah cara yang boleh dan baik dipakai untuk penentuan Hilal, dan hal ini sebenarnya tidak bertentangan dengan ru-yah.


Jika setiap pemimpin negeri Muslim berkumpul untuk membicarakan masalah ini, lalu memilih pendapat satu ru-yah untuk semua negeri dengan pertimbangan kesatuan umat Islam di seluruh dunia, lalu ditambah dengan dipakainya ilmu hisab yang dibantu dengan teknologi dan alat astronomi yang canggih pada zaman ini, Insya Allah, tidak akan ada istilah lagi umat Islam merayakan hari raya yang sama (Idul Fitri dan Idul Adha) dengan hari/tanggal yang berbeda.

Perbedaan pendapat (dalam hal yang diperbolehkan, bukan menyangkut masalah yang paling penting dari yang paling penting seperti aqidah, iman, dan sebagainya) memang akan sering terjadi, tetapi jika tidak ada satu upaya untuk menyatukannya maka perbedaan tersebut akan terus menjadi perbedaan yang jika tidak disikapi dengan baik maka bisa menjadi sebuah perpecahan.


Tol: 'Penulis' di atas bukanlah penulis yang sebenar(bukan ana) sebenarnya ana nak sampaikan yang part atas tu je~yang bawah nak padam~tapi rasanya ada baiknya ana kekalkan buah fikiran penulis asal entry ini semoga dengannya kita sedikit sebanyak dapat memeta kondisi umat di Indonesia~insyaAllah~

Sunday, August 7, 2011

4 Isteri Jagalah Yang pertama~

Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai empat orang isteri. Dia mencintai isteri yang keempat dan memberikan harta dan kesenangan yang banyak. Sebab, isteri keempat adalah yang tercantik di antara kesemua isterinya. Maka, tidak hairan lelaki ini sering memberikan yang terbaik untuk isteri keempatnya itu.

Pedagang itu juga mencintai isterinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan isterinya ini, dan sering berusaha untuk memperkenalkan isteri ketiganya ini kepada semua temannya. Namun dia juga selalu bimbang kalau-kalau isterinya ini akan lari dengan lelaki yang lain.

Begitu juga dengan isterinya yang kedua. Dia juga sangat menyukainya. Dia adalah seorang isteri yang sabar dan penuh pengertian. Bila-bila masa pun apabila pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pandangan isterinya yang kedua ini. dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya melalui masa-masa yang sulit.

Sama halnya dengan isterinya yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia sering membawa kebaikan bagi kehidupan keluarga ini. dialah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha si suami. Akan tetapi si pedangang tidak begitu mencintainya. Walaupun isteri pertamanya ini begitu sayang kepadanya namun, pedagang ini tidak begitu memperdulikannya.

Suatu ketika, si pedagang sakit. Kemudian dia menyedari mungkin masa untuknya hidup tinggal tidak lama lagi. Dia mula merenungi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati, "Saat ini, aku punya empat orang isteri. Namun, apabila aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri."

Lalu dia meminta semua isterinya datang dan kemudian mulai bertanya pada isteri keempatnya, "Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah sekarang, aku akan mati, mahukah kau mendampingiku dan menemaniku?" Isteri keempatnya terdiam. "Tentu saja tidak!" jawab isterinya yang keempat, dan pergi begitu sahaja tanpa berkata-kata lagi. Jawapan itu sangat menyakitkan hati seakan-akan ada pisau yang terhunus dan menghiris-hiris hatinya.

Pedagang yang sedih itu lalu bertanya kepada isteri ketiganya, "Aku pun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Mahukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku?". Isteri ketiganya menjawab, "Hidup begitu indah di sini. Aku akan menikah lagi jika kau mati". Pedagang begitu terpukul dengan jawapan isteri ketiganya itu.

Lalu, dia bertanya kepada isteri keduanya, "Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mahu membantuku. Kini, aku perlu sekali pertolonganmu. Kalau aku mati, mahukah kau ikut dan mendampingiku? " Si isteri kedua menjawab perlahan, "Maafkan aku tak mampu menolongmu kali ini. Aku hanya boleh menghantarmu ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu."

Jawapan itu seperti kilat yang menyambar. Si pedagang kini berasa putus asa.

Tiba-tiba terdengar satu suara, "Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut ke manapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu." Si pedagang lalu menoleh ke arah suara itu dan mendapati isteri pertamanya yang berkata begitu. Isteri pertamanya tampak begitu kurus. Badannya seperti orang yang kelaparan. Berasa menyesal, si pedagang lalu berguman, "Kalau saja aku mampu melayanmu lebih baik pada saat aku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini isteriku."

Teman, sesungguhnya kita punya empat orang isteri dalam hidup ini;

ISTERI KEEMPAT adalah tubuh kita. Seberapa banyak waktu dan belanja yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera apabila kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadapNYA.

ISTERI KETIGA adalah status sosial dan kekayaan kita. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah dan melupakan kita yang pernah memilikinya.

ISTERI KEDUA pula adalah kerabat dan teman-teman. Seberapa pun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan mampu bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.

DAN SESUNGGUHNYA ISTERI PERTAMA adalah jiwa dan amal kita. Mungkin kita sering

mengabaikan dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan peribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita diakhirat kelak.

Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal kemudian hari!

Wednesday, August 3, 2011

TAUSYIAH K.H RAHMAT ABDULLAH:


Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.
Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa,tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.
Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri. Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka”, ucapnya lirih.
Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana,lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidak-sesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang.
Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.
Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau meni’matinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?

Sunday, March 6, 2011

Sumber Dari Along~~

Tengah hari yang sangat sejuk...

Bukan di oversea, just over the sea...Pulau Pinang..huhu~

Erm, lama aku tunggu di sini bersama sahabat-sahabat...destinasi untuk ke Program Tahsinul Ibadah masih jauh. Hujan pula semakin lebat. Pertama kali...melihat banjir kilat berlaku di depan mata. Air yang berwarna kuning keemas-emasan itu semakin tinggi hingga ke gigi jalan raya. Aku dan para sahabat tetap setia menanti di tebing yang agak tinggi daripada kawasan banjir...Dalam pada itu, Nabilah masih sempat membetulkan duduknya di tepi pokok bunga yang semakin layu. Ada kerusi simen yang panjang di situ.

"Relax jer walaupun hujan...ish...ish...ish..." getusku dalam hati.

Itulah Nabilah, memang sifatnya begitu...sentiasa relax dan ceria walaupun duduk di tengah hujan yang lebat=)

Tiba-tiba seseorang menepuk belakangku dengan lembut...

"Eh, Sakinah? Dari mana ni? Ana ingatkan anti tak datang, kan hujan lebat ni?"tanyaku bertalu-talu terhadap sahabat yang baru pulang dari Mesir itu kerana kegoncangan yang berlaku di sana.

"Ana datang dengan bot tu la kak...ni datang dengan Amira,"jawabnya jujur sambil tangan menunjuk ke arah sebuah bot kecil yang dinaikinya bersama rakan seperjuangannya itu. Ya, sejujur dirinya yang baru ku kenal beberapa minggu yang lalu.

"La, awatnya anti mai jugak? Sian kat antuma..."sambungku lagi.

Mereka hanya tersenyum. Tiada yang lebih indah selain melihat senyuman sahabat yang berukhuwah denganku hanya kerana Allah Ta'ala...SUBHANALLAH.

Hujan semakin lebat. Aku lihat banyak pokok-pokok di tepi jalan juga hanyut dibawa arus deras banjir yang kotor kerana membawa sampah sarap yang banyak. Sampan, basikal, atap nipah dan sebagainya juga turut dibawa pergi. Tiba-tiba mataku tertumpu kepada suatu 'objek' yang bergerak-gerak dibawa arus di depanku. Tak berkelip mataku melihat...

"Ya Allah, kucing! Teah, jom selamatkan kucing tu!!!"spontan ku arahkan Fatihah sebagai jurugambar yang dilantik secara rasmi untuk program ini mengejar seekor kucing yang masih hidup terapung-apung di permukaan air dan dibawa arus. Anehnya, kulihat kucing itu menggigit sehelai kertas yang tegak berdiri tanpa tenggelam di dalam air bah itu. Malah, kucing tersebut tidak dibawa terus oleh arus deras hingga ke hujungnya tetapi hanya berlegar-legar di sekitar pokok yang masih utuh di hadapan kami semua. Seakan ada sesuatu yang ingin diberitahu oleh kucing tersebut kepadaku, aku segera berlari ke arahnya sambil cuba untuk menyelamatkannya, namun gagal kerana ia terlalu jauh dari tempat ku berdiri.

"Kena ambik gambo ni..."fikirku atas rasa keterujaanku itu terhadap fenomena tersebut. Aku terus mengeluarkan kamera digital yang sentiasa berada di dalam beg hitamku untuk merakamkan detik itu terutama kertas yang digigitnya...seakan ada tulisan al-quran di kertas itu, aku ingin segera membacanya. Namun, niatku terhalang kerana ada seekor anjing yang juga terapung-apung di depan kucing tersebut dan menghalang penglihatanku.

"Pelik betul la, nape lak tibe-tibe ade anjing ni?"rungut hatiku sendiri.

Kucing tersebut semakin mendekat denganku...Saat aku cuba mencapai kertas itu, tiba-tiba...???

"ASTAGHFIRULLAH!!!"jeritku...

"Eh, kenapa ni Along?"suara seseorang kedengaran jelas di telingaku.

Macam ku kenal je suara tu...??? dan tempat ini...???

"Ya Allah, aku mimpi rupanya..."bisikku perlahan setelah kulihat Ateh disampingku. Terpinga-pinga dia melihat gelagatku sambil tersenyum-senyum. Senyum perli. Rupa-rupanya ia hanya mimpi di dalam lenaku yang hanya sebentar cuma. Aku terus bercerita kepada Ateh tentang mimpiku yang aneh itu dan dia mendengar dengan setia.

Menggaru kepala yang tidak gatal, aku mengharap agar aku mendapat jawapan akan persoalan di dalam mimpiku itu. Apakah ayat quran yang tertulis pada kertas yang digigit kucing tersebut? Erm, Program Tahsinul Ibadah belum berlangsung ketika aku bermimpi tentangnya. Lagi 2 hari. Maka, mungkin di situlah jawapannya...

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Program Tahsinul Ibadah baru sahaja berlalu. Aku seakan-akan terlupa bahawa ada jawapan yang perlu aku cari untuk sebuah persoalan yang aku juga tidak pasti. Sahabat-sahabat yang sempat aku kenali di dalam mimpi tersebut semuanya aku ketemu didalam program tersebut. Fatihah, Ateh, Sakinah dan Amira...serta beberapa orang sahabat yang lain tak dapat ku kenal pasti di dalam mimpiku itu. Namun, aku gagal bertemu dengan Nabilah kerana dia tidak hadir pada program yang sebenar, hanya hadir di dalam mimpi...hehe~

Aku bertanya kepada Ateh, apa agaknya jawapan untuk persoalan mimpiku itu?

"Surah Al-Fatihah kot Along...Tadi kan Ustazah tekankan tentang surah tersebut?"jawabnya spontan.

"Ye ke?"tanyaku acuh tak acuh.

"Mimpi yang kucing tu ke Along?"Angah mencelah.

"Eh, mana Angah tau?"aku bertanya semula.

"Angah dengar Along cite kat Ateh hari tu..."jawabnya pula.

"Oooo, time tido pun leh dengo Along sembang ek? hehehe..."aku ketawa meraikan...

Angah dan Ateh ketawa serentak...Gembira rasanya kerana hangat terasa ukhuwah itu.

Mungkin benar apa yang dikata oleh Ateh. Ustazah sangat menekankan bacaan Surah Al-Fatihah yang baik kerana ia dibaca dalam setiap rakaat dalam solat dan tidak sah solat tanpanya. Bacaan yang baik dengan sebutan makhraj dan tajwid yang betul serta memahami maknanya akan membuahkan kekhusyukan di dalam solat. Selain itu, Surah Al-Fatihah selalu dibaca dalam permulaan setiap perbuatan atau pekerjaan. Mungkin itulah mesej yang ingin Allah sampaikan kepadaku melalui kucing tersebut. Perbaikilah bacaan Al-Fatihah mu...Wallahua'lam.

*Namun, aku masih berharap agar mimpiku itu bersambung dalam siri tidur yang akan datang...haha~

Sunday, June 20, 2010

From the top 10 misconceptions about Islam.

The true Arabic meaning of the word jihad is struggle. However in Islam it is often used to describe the striving in the way of god. There are many forms of jihad but the most important ones are Jihad al-nafs (jihad against ones self), jihad bil-lisan (jihad by being vocal), jihad bil yad (jihad by using action), and Jihad bis saif (jihad by using the sword). Each jihad is ranked differently and it was reported that Muhammad returned from a battle and said “We have returned from the lesser jihad (going into battle) to the greater jihad (the struggle of the soul).” This means that a Muslim struggling against himself and his soul is more important than the jihad of going into war. Another misconception is that only when a person dies in war does that person becomes a martyr. This is, however, false and it is believed that anyone doing anything for the sake of god and is killed becomes a martyr. A person who dies while performing pilgrimage in Mecca, a woman who dies while giving birth, or even someone who dies in a car crash while he was on his way to the mosque are all considered martyrs.


Friday, June 18, 2010

Salam Ilmi...-Larvae breast

Assalamualaikum wbkt..

Bismillahirrahmanirrahim..

Apa khabar ukhti akhowat fillah?

Kali ini ana suka untuk berkongsi satu artikel otau ilmu yg dikongsikan seorang sahabat melalui mesej di laman fb-sakurazei azei..jom telusuri...


Artikel ini mengingatkan saya pada pengajian guru saya....mengenai ulat yang berada dalam tubuh manusia..Beliau selalu sarankan kita sebagai wanita supaya banyakkan mengingat diri dan bersihkan diri dari dalam dulu..Kini baru saya faham apa maksud beliau. Kalau kita dan baca serta berfikir tentang artikel2 saya yang berkaitan punca penyakit dalam diri wanita posting saya yang lalu...http://alkiram.net/salam/2010/04/01/punca-asal-gangguan-dan-penyakit-dalam-diri-wanita/mungkin sedikit banyak membantu kita menjauhi daripada penyakit-penyakit sebegini....

Sebelum itu..kisah ini telah mengingatkan saya pada seorang pengamal dari RAHSIAHEBAT.BIZ , beliau seorang pesakit diabietis hampir setiap hari terpaksa cuci ulat di celah -celah kaki...alhamdulillah dengan amalan yang diperolehi dari Ebook pemusnah saka, lukanya semakin kering dan bebas dari kena potong...begitu besar selawat az-zatiah ini.So,Selalulah beramal selawat az-zatiah untuk kesejahteraan melindungi dari penyakit yng berkaitan dengan hama dan ulat ini.Kisah Saidina Ayub A.S diuji dengan ulat yang ribuan tahun dulu dikisahkan..dunia hari ni sebagai pentas PENYAKSIAN untuk meneguhkan iman kepada Allah SWT..

Pada yang bertanya pada saya..adakah penyakit- ganjil begini tidak berlaku pada orang bukan islam..sebagaimana dalam artikel saya lepas....???..tidak ,ia tetap juga berlaku... janji iblis bukan sahaja untuk merosakan orang islam tetapi adalah anak-anak Adam..pecaya atau tidak .Ayuh teruskanlah berfikir ...................................

Beberapa tahun yang lalu saya menerima email yang seperti ini; “Setelah Susan McKinley (Antropologi) pulang melakukan ekspedisi di sebuah negara di benua Amerika Selatan, ia menyedari ada ruam ganjil di payudara sebelah kirinya, Ia tidak mengetahui apa yang terjadi dan menyangka ruamnya akan sembuh nanti.

Setelah ia kembali, ia berjumpa dengan doktor kerana sudah merasa sakit. Doktor tidak mengetahui apakah punca penyakit tersebut. Namun doktor memberikannya antibiotik dan krim khusus. Tetapi sakitnya tidak juga reda malahan payu daranya semakin panas dan mulai berdarah. Ia memutuskan untuk membalut pendarahan tersebut. Bagaimanapun ia merasa bertambah sakit, lalu ia mula mencari doktor pakar. Dr. Lynch tidak dapat menganalisis jangkitan tersebut dan meminta Susan untuk mencari temannya yang ahli dalam bidang Dermatologi. Malangnya doktor yang dicadangkan oleh Dr Lynch sedang bercuti. Susan menunggu selama 2 minggu dan akhirnya dapat bertemu Dermatologist tersebut.

Susan terkejut, setelah membuka pembalutnya, mereka menemui larva yang masih hidup dan bersarang dalam pori (liang rongga luka) pada payu daranya (klik untuk menonton video). Sesekali larva ini masuk ke dalam pori dan muncul pada pori sebelahnya. Beliau tidak dapat membayangkan bertapa dalam lubang tersebut. Larva tersebut memakan lemak, lapisan kulit dan tisu-tisu penghasilan susu di payu daranya.”


Kelihatan seakan- akan porli Larva dengan buah teratai.Setelah meneliti gambar yang disertakan saya sangsi akan kesahihan email tersebut kerana saya menyangka gambar pori- pori larva pada puting payu dara tersebut seumpama buah teratai. Gambar tersebut telah menerima sentuhan Photoshop. Meskipun pengirim email tersebut meminta agar disebarkan, namun saya membuat keputusan untuk mengabaikannya.


Apabila saya terlihat artikel ini masih ada pada profil seorang teman saya di Tagged, menjadi ingatan dan panduannya. Saya pun membuat carian video di youtube. Saya dapati banyak video yang memaparkan perihal ulat atau larva botflies (lalat bot) yang menjadikan manusia yang masih bernyawa sebagai perumahnya. Bukan sahaja pada payu dara, kepala (klik untuk tengok Video), mata, leher, kepala, tangan, bahagian belakang badan dan juga kaki.

Lalat Bot adalah dari keluarga Oestridae. Wujud sekitar 150 spesies yang dikenal di seluruh dunia yang menjadikan mamalia sebagai perumah larvanya. Larva spesis lalat Bot, Hominis Dermatobia yang juga dikenali sebagai Tarsola atau American Warbie fly bukan sahaja menjadikan binatang ternakan dan rusa sebagai perumahnya. Bahkan ia juga adalah satu-satunya spesies yang menjadikan manusia juga sebagai perumah larvanya. samada dengan memasukkan terus telur-telurnya ke dalam badan manusia.

Ataupun menjadi kira- kira 40 jenis nyamuk, lalat lain dan juga sejenis kutu menjadi vektornya, agen bagi memulakan kitaran hidup anaknya. Bagi nyamuk dan kutu ia berada pada cecairnya yang akan disuntik masuk ke tubuh manusia. Manakala bagi lalat, lalat Bot betina akan melekatkan kira-kira 30 biji telur di bawah sayap lalat spesis lain. Telur lalat bot yang dijatuhkan pada kulit kita, akan bertindak balas dengan kepanasan suhu badan kita, lalu segera menentas.

Seterusnya ia akan mengorek lubang pada kulit dan terus mamasuki tubuh badan manusia . Ia membesar dan terus tinggal di dalam badan kita dengan memakan lemak, lapisan kulit dan tisu-tisu badan. Duri-duri pada larva lalat Bot ini akan mengait, menghiris dan melumatkan isi daging sisi lubang yang dibina bertujuan membesarkannya dan juga menjadi makanannya, menyebabkan kita merasa sangat sakit. Semasa ia tinggal di dalam lubang pori tersebut, ia juga merembaskan antibodi yang bertindak sebagai penghalang jangkitan kuman.

Kira-kira 8 minggu ia akan mencapai peringkat pompong. Kebiasannya pada peringkat kepompong ia akan jatuh ke tanah dan seminggu di tanah ia akan bertukar menjadi lalat Bot yang dewasa.

Salah satu cara untuk mengeluarkan Larva tersebut dengan meletakan daging mentah pada bahagian kulit yang didiami larva tersebut sebagai umpan. Cara lain adalah dengan menggunakan gubal pokok matatorsalo, didapati di Costa Rica, yang akan membunuh larva, tetapi larva yang mati masih wujud di dalam kulit. Selain daripada itu, menutupi lubang pada permukaan kulit dengan pengilat kuku, vaselin (Gel Petroluem) atau pita pelekat menyebabkan larva tersebut tidak dapat bernafas dan selepas 1 hari larva tersebut akan mati kelemasan. Dengan kematian larva tersebut bererti tiada lagi rembesan antibodi yang menghalang jangkitan kuman. Lalu resiko untuk dijangkiti kuman adalah tinggi sekiranya tidak mendapat rawatan yang betul.

Baru-baru ini, doktor mendapati bahawa alat yang digunakan bagi mengeluarkan bisa ular, boleh digunakan bagi mengeluarkan larva dengan mudah dan berkesan pada semua tahap tumbesar larva lalat bot. oleh sebab ia bertindak dwi kegunaan maka kini ia menjadi salah satu komponen utama dalam kit peti pertolongan cemas.

Sumber dari Wikipedea, google, youtube dan daripada laman blog yang lain.


Salam sayang berseri senyuman...

Assalamualaikum..

Friday, May 28, 2010

Open Your Eyes..

Bismillahirrahmanirrahiim...
Salam Buat Penghuni Syurga yang Dijanjikan Keimanannya. Salam semerbak haruman kasturi buat mereka yang sentiasa berjuang menegakkan kalimah tauhid di muka bumi. Salam luarbiasa buat insan yang biasa seperti diri hamba yang hina ini.

Tidak seperti selalu, kini ana senang untuk berkongsi dengan antum, lirik lagu. Here you are..

Open Your Eyes..

By: Maher Zain
Look around yourselves
Can’t you see this wonder
Spreaded infront of you
The clouds floating by
The skies are clear and blue
Planets in the orbits
The moon and the sun
Such perfect harmony

Let’s start question in ourselves
Isn’t this proof enough for us
Or are we so blind
To push it all aside..
No..

We just have to
Open our eyes, our hearts, and minds
If we just look bright to see the signs
We can’t keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way
(Allah..)
Guide us every single day..
(Allah..)
Keep us close to You
Until the end of time..

Look inside yourselves
Such a perfect order
Hiding in yourselves
Running in your veins
What about anger love and pain
And all the things you’re feeling
Can you touch them with your hand?
So are they really there?

Lets start question in ourselves
Isn’t this proof enough for us?
Or are we so blind
To push it all aside..?
No..

We just have to
Open our eyes, our hearts, and minds
If we just look bright to see the signs
We can’t keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way
(Allah..)
Guide us every single day..
(Allah..)
Keep us close to You
Until the end of time..

When a baby’s born
So helpless and weak
And you’re watching him growing..
So why deny
Whats in front of your eyes
The biggest miracle of life..

We just have to
Open our eyes, our hearts, and minds
If we just look quiet we’ll see the signs
We can’t keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way
(Allah..)
Guide us every single day..
(Allah..)
Keep us close to You
Until the end of time..

Open your eyes and hearts and minds
If you just look bright to see the signs
We can’t keep hiding from the truth
Let it take us by surprise
Take us in the best way
(Allah..)
Guide us every single day..
(Allah..)
Keep us close to You
Until the end of time..

Allah..
You created everything
We belong to You
Ya Robb we raise our hands
Forever we thank You..
Alhamdulillah..

Artist: Maher Zain
Album: Thank You Allah
Copyright: Awakening Records 2009

Friday, April 2, 2010

Mengambil Ibrah dari Fuqaha' Al Azhar

Bismillahirrahmanirrahim.

Ana berkunjung ke salah sebuah blog yang dulu pernah ana kunjungi tapi time t blog tu beku. Mungkin kerana penulis kala itu sedang sibuk menguruskan kepulangannya ke Malaysia maka tak sempat mencoret. Hari ini ana buka dan melihat akan coretan2 terbarunya. suka untuk ana kongsikan buat yang bisa meihat dan memahami. Jazakillah ustaz..

Dipetik daripada blog: al-aman.blogspot.com.


"Encik Malaysia, kamu berlagak kamu kebal. Ingat, serangan Allah maha sakti. Peluru-pelurunya berkuasa menembusi tubuh orang yg jauh lebih handal dan gagah dari kamu. Dia menyerang ikut kehendakNya. Jika ingkar perintahnya kamu mungkin tersungkur. Kamu mesti taatiNya, Dia kan Tuan kamu. Tahun lepas, Mr. Amerika cedera teruk kena peluru jenis Katrina. Tak sempat langsung nak mengelak. Jepun-kun yg pakar teknologi itu, satu dunia kenal tapi tak mampu juga lawan walaupun dah reka macam-macam ciptaan canggih untuk bertahan. Akhirnya, tersembam ke dalam bumi. Jiran kamu, Bapak Indonesia pula diserang menggunakan senjata berat jenis Tsunami. Kamu pun terluka terkena serpihan peluru itu bukan? Haiti pun menyembah bumi baru-baru ini. Si Israel celaka yg rampas tanah milik kita dan 'Ammu Palestin itu pula bergegas pergi curi organ dalaman Haiti. Baru-baru ini, dia halau pula saudara-mara kita yg beriktikaf di masjid. Dibina pula kuil jahanamnya di tepi masjid. Baiklah Encik Malaysia, saya sekadar menegur. Hmm... saya dan keluarga takut laknatNya..." kata Encik Brunei mengakhiri perbualan dengan jiran terdekatnya, Encik Malaysia yg sering mengingkari Tuannya sendiri. Encik Brunei pun memulakan langkahan dan pulang ke rumah.

Encik Malaysia kelihatan tenang sahaja bahkan otaknya sedang merancang beberapa projek mega. "Untung judi tahun 2008 dulu dapat RM 2.5 bilion. Duit ini digunakan untuk pengurusan dan pembangunan rumah.. yes!", kata Encik Malaysia lalu tersenyum tanda puas hati.

Menteri Hal Ehwal Agama Brunei, Zain Serudin menolak usul ahli Parlimen, Goh King Chin supaya zon khas jual beli arak diwujudkan untuk pelancong bukan Islam. “Yang paling kami takuti ialah laknat Allah. Laknatnya bukan pada mereka yang melakukannya sahaja tapi semua yang berada di negara ini." kata Zain Serudin.

Di Mesir, Dr. Zainab Ridhwan juga pernah mengusulkan supaya arak, daging babi dan perjudian dihidangkan sebagai memuliakan tetamu-tetamu asing yg datang, bahkan menyifatkan bahawa tindakan itu ialah satu respons positif daripada kita setelah mereka meraikan kita yg tidak minum arak dan makan babi apabila berkunjung ke negara mereka!

Siapakah Dr. Zainab Ridhwan ini? Dia dan SIS di Malaysia muncul dalam satu versi yg sama. Gaya pemikiran liberal yg berselindung di sebalik nama Islam. Saya rasa anda sudah mula mengenali siapa gerangan Dr. Zainab Ridhwan ini. Beliau ialah pemegang Ijazah Kedoktoran dalam Falsafah Islamiah dari Universiti Iskandariah. Untuk pengetahuan bagi yg tidak tahu, selain Indonesia, Mesir juga merupakan sarang penyembah ideologi liberal. Bahkan tidak melampau jika saya mengatakan bahawa tokoh-tokoh liberal di Indonesia banyak menceduk pemikiran Dr. Nasr Hamid Abu Zaid, anak kelahiran Tanta, Mesir.

sumber dari:al-aman.blogspot.com